Sunday, March 15, 2009

nada

jemari yang indah dan lentik meraba tuts-tuts piano
mata tertutup menikmati nada dan mulut terkatup bergumam irama
tak terlihat ragu gerak tangan meliuk ke kanan dan ke kiri
nyata sekali indahnya melody dari hati....
lagu itu kau nyanyikan dengan lembut ke setiap sudut rasaku
tak kuasa mata berpaling
terasa kelu bibir tuk berucap
tak sanggup untuk beranjak
melody itu telah membiusku...
aku mati gaya...

Thursday, January 8, 2009

Sayur Asem...

Ngepet....kembali Sumi memaki dalam hati ketika bayi dalam kandungannya seolah menggaruk- garuk dinding rahimnya. Mendatangkan rasa ngilu dan geli yang membuatnya ingin kembali ke kakus umum berjarak 200 meter untuk melegakan kantong kemih nya yang kembali kram...

Hhhmmm...apa yang akan aku lakukan kelak dengan anak-anakku ini? Lelaki jahanam yang telah membuatku bunting untuk yang ketiga kalinya seolah tidak peduli dengan nasib aku dan anak-anakku. Yang ada dalam otak dan pikirannya yang kosong serta tolol itu, hanya bagaimana cara untuk bertahan lebih lama di meja taruh, dengan bau minuman tuak di setiap hembusan nafasnya, serta lonte-lonte yang selalu siap menghisap kemaluannya di bawah meja bilamana ia menang dalam permainan judi itu...itulah suamiku...dan ayah anak-anakku....

suami yang aku nikahi sembilan tahun silam. Aku tidak menyesali telah menikah dengannya. Tidak ada paksaan dari orang tua untuk mau dengannya. Tidak ada hutang piutang orang tuaku yang impas asalkan aku menerima pinangannya seperti yang terjadi pada Siti Nur Baya. Dia juga tidak semenjijikkan si tua bangka datuk maringgih. Dia muda, tampan,menarik dan juga pintar...
dulu aku mencintainya....

ingatan ku kembali ketika akhirnya dia melamarku dan menikahiku. Ia sedikit berubah saat itu. Dia lebih memilih pulang ke rumah sepulangnya bekerja di banding berkumpul dengan teman-temannya di meja judi...terang saja...kita baru menikah...
Sudah pasti melucuti pakaianku dan menunggangiku lebih menarik daripada kongkow-kongkow dengan sahabat judinya. Aku pun lebih memilih tinggal di rumah menunggu dia pulang ketimbang bergunjing dengan teman-temanku yang pekerjaannya tak ada selain ngomongin orang. Aku lebih rela menghabiskan keringat dan tenagaku di atas ranjang dengannya...setiap hari kita bercinta. Harus aku akui anak pertamaku adalah buah cinta dan birahi kami berdua yang paling nikmat...dulu aku mencintainya...

Wednesday, January 7, 2009

Filosofi pelajaran sempoa

Kemenakan ku bilang tentang rumus sempoa dasar yang diajarkan gurunya di sebuah sekolah sempoa yang susah payah kakakku membiayainya, agar anak perempuannya itu pintar seperti anak2 lainnya.....

6 sahabat besarnya 4
1 sahabat kecilnya 4
3 sahabat kecilnya 2
9 sahabat besarnya 1

aneh kedengarannya...
bagaimana bilangan 6 menyebut bilangan yang lebih kecil (4) sebagai sahabat besarnya
dan bagaimana angka 1 yang lebih kecil menyebut bilangan 4 yang lebih besar sebagai sahabat kecilnya???
apakah 6 itu lemah dan rendah hati???
dan apakah 1 itu menjadi si kerdil yang congkak dan sombong???

aku mengajak kemenakanku itu duduk berdua. Ku suguhkan teh hangat sebelum mengajaknya bicara :

"sayang, bibi tau bahwa dari sekolah sempoa mu itu kamu di latih untuk dapat berhitung dengan cepat dan tepat. Itu terbukti dengan pesona kecepatan berhitungmu yang luar biasa. apalagi dibandingkan dengan bibi mu ini yang dulu tidak mengenal sistem berhitung ala sempoa. Sekarang bibi ingin kamu menyerap sesuatu yang berbeda dari pelajaranmu yang matematis itu".....

Dia tertunduk diam. Aku tidak tau apakah diamnya itu mengerti atau bingung. Aku mengeluarkan secarik kertas, lalu aku tulis :

" Bilangan 6 itu tidak lemah ataupun rendah hati dengan menyebut 4 sahabat besarnya. Dan bilangan 1 itu bukanlah congkak dan sombong dengan menyebut bilangan 4 itu sahabat kecilnya. Semua bilangan itu di ibaratkan sebagai team work dimana satu sama lai tidak menganggap lebih rendah atau lebih tinggi. Mereka (bilangan2 itu) bekerjasama bahu membahu untuk menyelesaikan suatu soal (masalah) menjadi suatu jawaban yang tepat dan benar. Suatu saat nanti ketika kamu besar dan hidup bermasyarakat, jadilah seperti bilangan2 itu. Janganlah menjadi congkak dan mengecilkan orang lain yang secara sosial mungkin lebih kecil dari kamu, dan jangan pernah berkecil hati untuk ikut berpartisipasi hanya karena kamu lebih kecil daripada mereka yang besar. Hargailah dirimu dan orang lain...terserah besar ataupun kecil "

aku memasukkan kertas coretan itu kedalam saku celananya :

"Bibi tau kamu terlalu muda untuk mengerti maksud coretanku ini, tapi tolonglah kamu catat di bukumu, atau lebih baik catat di otakmu. suatu saat nanti kamu akan mengerti "

Monday, January 5, 2009

me

Aku mencoreng moreng mukaku, dan saya tertawa....
Saya berlari-lari layaknya orang gila, dan aku bahagia...
Aku menangisi luka hatiku, dan saya membalutnya...
Hanya aku di temani saya........
Aku seperti berteman dengan saya, dan saya bersahabat dengan aku..
Cuma saya yang mengerti aku...
dan cuma aku yang peduli dengan saya...
Aku yakin..saya dan aku adalah belahan jiwa....